My Poem

Tuesday, July 22, 2008

Aku Adalah Aku


Aku adalah aku
Bukan kamu, dia atau siapapun
Aku tak perlu menjadi dia, kamu atau siapapun
Jika aku bisa menjadi aku
Dan tak perlu aku menanyakan
siapa aku

Bukankah yang paling mengenal diriku ini cuma aku ?
Bukan kamu, dia atau siapapun

Siapa yang bisa merasakan detak jantungku?,
denyut nadiku?, perasaanku...?
Hanya aku....!
Bukan kamu, dia atau siapapun

jangan paksa aku

Dengan segala keterbatasan dan kelemahan
Izinkan aku menjadi aku
Bukan kamu, dia atau siapapun...


dits

Saturday, July 19, 2008

Diam Sejenak


ku ingin diam sejenak
nikmati lelah yang menahun sampai ubun-ubun
biar penat dalam diri ini mengalun

Tak apa tinggalkan petak
hilangkan jejak
lari sejenak dari kerumunan pola fikir otak
yang menjebak

relakan terbang melayang
biar tenang kan datang
rasakan roh yang bergentayang
biar raga tak cuma cangkang

ku ingin mati sejenak
matikan beban yang kian membludak
bebaskan persoalan yang bikin botak

tapi... Ups Jangan
jangan terlena kawan
saat semua kembali ke titik aman
kembalilah pada kenyataan

dari titik diam yang temaram
kita melangkah menuju titik khatam





Dits

Wednesday, July 16, 2008

Nestapa Pujangga


Kulihat untaian kata disana
Berjejer, berbaris bak rentetan tangga nada
Berirama beriring kilau cahaya
yang menyaingi bintang kejora

Indah sangat...

Kulihat lagi didekatnya
luar biasa...
Disana telukis mutiara-mutiara kata
yang membentuk rona sastra
Samar namun bermakna

Rupanya para punjangga
Sedang menorehkan pelanginya
Diatas kanvas pesona mereka lukiskan kisah hatinya

Murung, ceria, derita, nestapa
Semua seolah menjadi simphoni yang indah
ditangan mereka

ah pujangga
Nestapamu membawa rasa
Meranamu bawakan secercah asa
Sedihmu berikan setitik cinta
Kau sulap semua menjadi mutiara

Oh indahnya sastra...

Iri ku memandangmu menggoreskan tinta
sayang aku bukan pujangga
Aku hanya hamba yang tak berdaya
Terlena dalam buai katanya
dan terpana dalam setiap keindahanya...




dits

berlari (mengejar mimpi)


gemerincing asa tergoyahkan
oleh semilir angin dari utara

aku disini sendiri
berdiri di bawah rinai hujan
yang terus membasahi

kunikmati setiap tetes
yang meresap kedalam pori
kucari kedamaian
disetiap relung sepi

akankah keindahan ituhadir disini..??
akankah gemercik itu mendatangkan teori..??

teori yang menerangkan arti mimpi
atau hanya sekedar penambal isi hati

ah rupanya percuma saja ku disini
bergelut dengan mimpi
berteman harapan hampa tak pasti

aku sadar aku harus berlari
mengejar keping mimpi
yang berserakan tak terkendali

aku harus resapi
sandarkan untai fikir dengan teori

aku harus berimaji
berfantasi dengan kepingan mimpi
dan untai teori
menghasilkan korelasi yang berarti

dan aku harus menepi
menyrutkan lelah yang menghinggapi
dan memberi waktu tuk berserh diri
tuk kumulai kembali berlari



dits

Friday, July 11, 2008

Mesin Puisi


Cling...,
kumasukan koin keberanian
joss...,
kusambungkan dengan sumber imajinasi
koneksipun terjadi, aku pun mulai beraksi

kumainkan dengan tulisan, jadilah sebuah lukisan
bermodalkan sedikit kiasan jadilah rima yang berkesan
ku tekan tombol emosiku menjelmalah metafor yang lugu
beberapa menit berlalu, sebentar lagi jadi puisiku
hanya tinggal kusenggol satu tombol
rampunglah semua jadi satu

tap ah...
ia berhenti, bukan karna konsletnya imajinasi
atau tlah habis koin keberanian ini
tapi listrik yang lagi-lagi mati
terpaksa ku terdiam diri
apalagh daya mesin ku mati...

niat ingin berposting puisi
jadi tak berarti
mungkin kutunggu di lain hari...


Aku Ingin Pulang


Statis..,
diriku ini gamang diantara sunyi
yang menjebak naluri

Teriris..,
jiwaku menangis mereload memory
yang tak kunjung habis

Berdiri ragaku disini
terajut tenun lamun sembari menghitung hari
menatap emosi yang beterbangan bersama polusi
dan menekan hati yang tak sabar tuk menanti

sepi mengeroyok diri
semakin lama semakin tak pasti
ku coba mengelak namun asa tak terganti
ku coba bersabar namun gelisah terus menghantui

aku tak terbuai keindahan disni
aku tak terlena kehebatan di tanah ini
aku rindu tanahku, tanah pertiwiku

kutengok kembali lembaran penuh angka
yang tak rapi lagi karena seringnya ku datangi

ah... satu minggu lagi...

ku akan terus meniti
hingga saatnya nanti
tanah pertiwi menungguku dengan pasti



Bukit Merah, 11-07-2008
Singapore



Monday, July 07, 2008

Aku (Takkan Kau Mengerti)


saat semua berlari meninggalkan, aku disini bertahan
kutelan caci bersimbah maki
aku tetap berdiri

saat semua pergi tak hiraukan, aku disini berperan
menepis semua tudingan
walau ku tau ku akan tertelan

saat semua membenci, aku disini memuji
mencari persepsi, menekan arogansi
walaupun semuanya tak pasti

saat semua melupa, aku disini memuja
berdalih bagai raja
mempertahankan apa yang seharusnya ku puja

saat semua terlelap, aku disini terjaga
merenungi semua yang pernah ku duga
menelusuri semua yang telah ku perkara

Aku adalah sepi dalam ramai
Aku adalah dingin dalam terik mentari
Aku adalah bayangan dalam pekat malam

Aku adalah sesuatu
yang mungkin takkan bisa kau mengerti...